Cerpen
Antara
sampo dan es krim
Matahari mulai
menampakkan dirinya dari ufuk timur, cahayanya menembus jendela kamarku saat
ibu membuka gorden, aku terbangun dari mimpi indahku karena cahaya matahari
yang menembus jendela kamarku. Perlahan aku mulai sadar bahwa hari telah
berganti.
“De, ayo mandi”
kata ibu
“Iya bu” kataku
Tanpa berlama-lama lagi aku pun segera
bangun dari tempat tidurku. Aku berjalan menuju kamar mandi, meskipun masih
belum sepenuhnya sadar karena masih mengantuk.
“Ade,
ayo sarapan” kata ibu
“Iya
bu” kataku
Setelah mandi dan berganti pakaian aku pun
segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluargaku.
Menjelang
siang, aku pun menjalankan rutinitasku sebagai anak usia 5 tahun yaitu bermain
bersama teman-temanku. Aku senang sekali saat aku bisa bermain bersama
teman-temanku, bahkan terkadang sampai lupa waktu. Saking asyiknya bermain aku
sampai lupa makan dan pulang ke rumah. Sehingga ibu harus selalu menyuapiku
saat aku bermain dengan teman-temanku.
Hari
mulai sore, aku sedang bermain bersama temanku di depan rumah.
“Ade”
panggil paman
“Iya
paman” kataku
“Ke
sini sebentar sayang” kata paman
Aku pun segera masuk ke rumah dan menemui
pamanku.
“Ada
apa paman?” tanyaku
“
Tolong belikan sampo di warung ya, paman mau keramas” kata paman
“Iya
paman” kataku
“Ini
uangnya” kata paman, sambil memberikan uangnya padaku
Aku segera menuju ke warung dekat rumah.
Saat di jalan aku
melihat teman-temanku sedang berkumpul, aku pun segera mendekati mereka.
Teman-teman sedang asyik bermain monopoli, lalu pun ikut bergabung bermain
dengan mereka. Aku asyik bermain bersama teman-temanku. Sementara pamanku
menunggu di rumah berharap aku segera datang dan membawakan sampo yang ia
pesan.
“Ade ke mana si
kok beli sampo lama sekali?” tanya paman pada ibu
“Sabar mungkin
masih di warung” kata ibu
“Iya kak tapi ini
sudah lama banget, masa dari tadi belum datang juga, padahal warungnya deket”
kata paman
Aku masih asyik bermain bersama temanku,
sampai aku lupa seharusnya aku beli sampo untuk paman.
Saat
aku bermain bersama teman-temanku, tiba-tiba ada tukang es krim lewat. Secara
refleks teman-temanku memanggil tukang es krim itu. Mereka membeli es krim
dengan berbagai rasa yang mereka suka. Sementara aku hanya terdiam saja.
“Neng mau beli es krim rasa apa?”
tanya sang penjual es krim
“Aku
rasa coklat saja” jawabku
“Ini
es krim coklatnya neng” kata sang penjual
“Terima
kasih, ini uangnya” kataku sambil menyerahkan uang yang di berikan paman.
“Aku pulang dulu”
kataku
“Iya besok main
lagi ya” kata temanku
“Ok” kataku
Aku sudah hampir
sampai di rumah, seketika aku teringat bahwa uang yang diberikan paman itu
untuk membeli sampo bukan es krim. Tapi aku malah menggunakan uang itu untuk
membeli es krim.
“Ade, kamu ke mana
saja dari tadi paman tunggu” kata paman
“Dari rumah
temanku” kataku
“Kamu kok malah
main si bukannya cepat pulang paman sudah tunggu kamu dari tadi. Sekarang mana
sampo paman?” tanya paman
“Ini” kataku
sambil mengangkat es krim yang aku pegang
“Kok es krim?
Paman kan minta kamu buat beli sampo bukan beli es krim” kata paman
“Ihh paman,
mending es krim lah daripada sampo, sampo kan pahit sedangkan es krim itu manis
paman” kataku
“Ade, kamu itu ya”
kata paman sambil menyubit pipiku
“Aww, sakit paman”
kataku
“Ini ada apa kok
ribut si?” tanya ibu
“Ini loh kak
anakmu, aku suruh dia beli sampo tapi dia malah beli es krim, dengan alasan es
krim itu manis sedangkan sampo pahit. Jadi dia lebih memilih beli es krim yang
manis” kata paman
Sementara ibuku hanya bisa tertawa melihat
kelakuan anaknya.
Akhirnya
paman juga menggalah dan mengikhlaskan uangnya yang harusnya aku belikan sampo
malah aku belikan es krim. Dan paman akhirnya membeli sampo itu sendiri karena
ia takut jika menyuruhku membelikan sampo malah aku belikan es krim.
Bagus kak, lanjutkan
BalasHapus