Teks Editorial
Kebencian
Masyarakat Indonesia Terhadap PSSI

Persatuan
Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah ada sejak 19 April 1930. PSSI ketika
itu menjadi bagian dari perjuangan pemuda-pemuda Indonesia untuk meraih
kemerdekaan dari penjajahan Belanda, sebagaimana yang diusulkan IR. Soeratin
Sosrosoegondo. Melihat sejarahnya, PSSI idealnya dipuja sebagai organisasi yang
menjunjung tinggi semangat nasionalisme.
Tapi
sekarang, PSSI justru sasaran caci maki. Sudah hampir dua decade PSSI menjadi olok-olok masyarakat Indonesia,
khususnya pecinta sepakbola. Bukan rahasia lagi jika apresiasi terhadap PSSI
semakin berkurang sejak federasi sepakbola Indonesia tersebut dipimpin oleh
Nurdin Halid. Pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, tersebut didapuk
sebagai ketua umum PSSI pada 2003 dan memimpin hingga 2011.
Prestasi-prestasi
membanggakan Indonesia terhenti sejak PSSI tidak lagi dipimpin oleh Azwar Anas
(1991-1999). Saat dipimpin Azwar, timnas Indonesia untuk pertama kalinya tampil
di piala Asia. Timnas Indonesia juga mencapai peringkat tertinggi FIFA
sepanjang sejarah yakni perigkat 76. Liga Indonesia yang merupakan gabungan
antara perserikatan dan Galatama pun lahir dibawah pimpinan Azwar.
PSSI era
Agum Gumelar (1999-2003) menjadi awal mula timnas Indonesia miskin prestasi.
Prestasi terbaik timnas di era Agum hanya sebatas dua kali runner-up piala
Tuger (sekarang piala AFF). Tapi tak seperti ketum-ketum era millennium yang
haus akan jabatan, Agum menolak kembali memimpin PSSI setelah masa jabatannya
habis.
Sepanjang
kepemimpinan Nurdin di PSSI, yakni selama tujuh tahun, sebenarnya Nurdin hanya
disibukkan dengan kasus-kasus korupsi. Ia menjadi tersangka kasus penyeludupan
gula illegal pada 2004. Di tahun yang sama ia juga merupakan tersangka korupsi
distribusi minyak goreng. Kasus pelanggaran impor beras pada 2005 pun
membuatnya harus mendekam di penjara selama dua tahun enam bulan. Saat di
penjara, Nurdin tetap memimpin PSSI. Inilah yang membuat public sepakbola
semakin geram pada PSSI ketika prestasi tak kunjung tiba PSSSI justru berulah
dengan terus mempertahankan Nurdin sebagai ketua umum.
Pasca
Nurdin tak lagi jadi ketum PSSI, masalah demi masalah tetap merundungi PSSI.
Djohar Arifin yang menjadi penerusnya melahirkan masalah yang lebih besar
karena banyaknya anggota PSSI yang tak mengakui terpilihnya Djohar sebagai
ketum PSSI. Para anggota PSSI yang setuju itu, yang akhirnya terdepak dari pos
Exco PSSI, melahirkan KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia) yang
dipimpin oleh Tony Apriliani dan La Nyalla Mattalitti yang sebenarnya merupakan
anggota Komite Eksekutif PSSI.
Ketika
orang-orang di KPSI akhirnya kembali ke panguan PSSI. La Nyalla pun saat itu
akhirnya menjabat sebagai wakil ketua umum. Keputusan ini yang membukakan jalan
bagi La Nyalla menjadi ketum PSSI. Pada tahun 2015, La Nyalla pun terpilih
menjadi ketum PSSI baru.
Namun tak berselang lama, keputusan PSSI itu tak
diakui oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Menpora pun membekukan
PSSI. FIFA sebagai federasi sepakbola tertinggi dunia akhirnya menghukum PSSI
dengan keanggotaanya dicabut sementara sehingga timnas Indonesia tidak bisa
berlaga diajang internasional.
Setelah
hukuman terhadap PSSI dicabut FIFA, bukan angin segar yang didapatkan
masyarakat Indonesia. Sejak kongres PSSI pada 2017, sudah banyak keanehan
terjadi. Dalam pemilihan ketua umum, masyarakat Indonesia sempat menaruh
harapan besar pada salah satu legenda sepakbola Indonesia yaitu Kurniawan Dwi
Irianto, yang maju sebagai kandidat ketua umum. Namun, Edy Rahmayadi lah yang
terpilih menjadi ketua umum.
Ketika
liga 1 2017 sebagai divisi teratas liga Indonesia yang baru digulirkan, banyak
regulasi aneh. Selain aneh, regulasi pun berubah-ubah saat liga berjalan. PSSI
juga memberikan hukuman yang aneh seperti hukuman penonton tanpa atribut, yang
hanya ada di Indonesia. Puncak keanehan liga 1 terjadi pada akhir musim, ketika
Bhayangkara FC mendapatkan tiga poin gratis dari komdis PSSI.
Segala
keanehan itu dilengkapi oleh keputusan Edy Rahmayadi yang memilih cuti dari
jabatan ketum PSSI untuk maju pada pemilihan gubernur 2018. Ketika PSSI
membutuhkan sosok yang bisa memajukan sepakbola nasional, PSSI saat itu justru
dipimpin oleh orang yang memiliki ambisi pribadi yang membuatnya rela
meninggalkan tanggungjawab utamanya untuk memajukan sepakbola Indonesia.
Dari
serangkaian cerita diatas, gejolak diluar lapangan yang diakibatkan PSSI inilah
menjadi bumbu-bumbu masyarakat Indonesia
semakin membenci PSSI. Sepakbola Indonesia lebih heboh oleh persoalan diluar
lapangan ketimpang prestasinya. Prestasi Indonesia yang semakin terjun bebas
jelas membuat masyarakat Indonesia semakin gerah.
Sebenarnya
banyak program dan rencana PSSI yang positif di era sekarang ini. Dimulai dari
dibentuknya kurikulum FILANESIA (filosofi sepakbola Indonesia) untuk sepakbola usia
dini, road map target Indonesia tampil di piala dunia 2032 dan penerapan Good
Corcoparate Governance dalam tubuh PSSI, menjadi harapan bagi indonesia punya
masa depan yang lebih baik. Tapi karena ulah ketum PSSInya sendiri, sebagaimana
yang sudah pernah terjadi sejak 2003, nama PSSI secara organisasi tetap jelek
dimata masyarakat.
Di taman ada asap
BalasHapusMantap👍
wih, terimakasih informasinya,bermanfaat
BalasHapus